Kandungan kimia dari Allium sativum
L. yang memiliki aktivitas biologi dan bermanfaat dalam pengobatan
penyakit klinis atau perawatan kasus metafisika adalah senyawa
organosulfur . Kandungan senyawa organosulfur ini antara lain:
a. Senyawa S-ak(en)-il-L-Sistein sulfoksida (ACSOs), contohnya allicin dan γ-glutamilsistein, senyawa yang paling banyak terdapat dalam bawang putih. Allicin bertanggung
jawab pada bau dan citarasa bawang putih, asam amino yang mengandung
sulfur, dan digunakan sebagai prekusor allicin . Allicin
dan senyawa sulfoksida yang lain, kecuali sikloalliin, segera berubah
menjadi senyawa thiosulfinat, seperti allicin, dengan bantuan enzim
alliinase ketika bawang putih segar dicincang, dipotong, maupun dikunyah
secara langsung (Amagase, 2006). Allicin memiliki potensi sebagai antibakteri.
b.
Senyawa sulfur yang volatil seperti allicin. Allicin merupakan senyawa
yang kurang stabil, adanya pengaruh air panas, oksigen udara, dan
lingkungan basa, mudah sekali terdekomposisi menjadi senyawa sulfur yang
lain seperti dialil sulfida.
c. Senyawa sulfur yang larut dalam lemak seperti diallyl sulfide (DAS) dan diallyl sulfide (DADS).
d.
Senyawa sulfur larut air yang non volatil seperti S- allil sistein
(SAC), yang terbentuk dari reaksi enzimatik γ-glutamilsisteine ketika
bawang putih diekstraksi dengan air (Amagase, 2001). SAC banyak terdapat
dalam berbagai macam sediaan bawang putih, merupakan senyawa yang
memiliki aktivitas biologis, sehingga adanya SAC dalam sediaan bawang
putih sering dijadikan standar bahwa sediaan bawang putih tersebut layak
dikonsumsi atau tidak (Amagase, 2006).
Umbi bawang putih berkhasiat
sebagai obat tekanan darah tinggi, meredakan rasa pening di kepala,
menurunkan kolesterol,dan obat maag (Sri Sugati et Hutapea, 1991).
Disamping itu digunakan pula sebagai ekspektoransia (pada bronkhitis
kronis), karminativa (pada keadaan dispepsia dan meteorismus) (Hansel,
1991).
Pengetahuan tentang manfaat bawang putih
dalam pengobatan sudah ada sejak tahun 1550 sebelum masehi, dimana
orang-orang Mesir menggunakan bawang putih untuk mengobati berbagai
penyakit (Yang, 2001).
Berbagai penelitian epidemiologi yang berkembang menyebutkan bahwa bawang
putih. dan berbagai tanaman lain yang mengandung senyawa organosulfur
dapat mencegah terjadinya kanker pada manusia, termasuk kanker kolon
(Reddy et Rao, 1993).
Penelitian
lain yang memperkuat bahwa bawang putih dapat digunakan sebagai
kemopreventif kanker kolon dilakukan dengan membandingkan antara SAC dan
SAMC yang dikandung oleh bawang putih pada sel kanker kolon HT-29 dan
SW-480. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah SAMC
dapat menghambat pertumbuhan serta mengistirahatkan sel pada fase G¬2 – M
dan menginduksi terjadinya apoptosis (Shirin et al., 2001).
Bawang
putih yang tersedia di pasaran internasional tersedia dalam empat macam
bentuk yaitu minyak esensial bawang putih, maserat minyak bawang putih,
serbuk bawang putih (yang dikenal sebagai Garlicin), dan aged garlic
extract (AGE). Penelitian yang sudah dilakukan membandingakan antara AGE
dengan bentuk olahan bawang putih yang lain seperti jus bawang putih
mentah (raw garlic juice), jus bawang putih yang dipanaskan (heated
garlic juice), dan serbuk bawang putih masak. Jika dilihat aksi
farmakologinya, maka AGE lebih poten dalam menghambat pertumbuhan sel
sarkoma-180 yang ditransplantasi pada tikus, dibanding dengan bentuk
olahan bawang putih yang lain (Kasuga et al., 2001).
Efek
antikanker dari bawang putih. juga dapat diperkuat dengan adanya
senyawa organoselenium dibanding senyawa organosulfur yang analog.
Organoselenium yang disintesis di laboratorium, dialil selenida, 300
kali lebih efektif jika dibanding dialil sulfida dalam melindungi
induksi DMBA pada kanker payudara tikus. Lebih jauh lagi benzil
selenosianat dapat menghambat induksi azoxymetana kanker kolon pada
tikus (El-Bayoumy et al., 2006).
Menjawab
berbagai pertanyaan seputar manfaat bawang putih untuk membantu
"menonaktifkan" indra-6 pada anak-anak yang rewel pada malam hari, maka
kandungan minyak atsiri dan sterol terbukti membantu menangani kasus
ini. Cara sederhananya adalah dengan memotong bawang putih menjadi 2
bagan. Bagian yang terpotong akan mengeluarkan minyak yang kemudian
dioleskan ke dahi anak itu. Reaksi farmakoterapinya sekitar 10-15 menit
kemudian. Anak menjadi lebih tenang dan nyaman.
Pondok Holistik - 7
Body and Soul Harmony
Phone : 0274 - 925.3434 / 0821.3844.3434
Email : pondokholistik7@gmail.com
