Pengalaman
biasanya ”hanya” bisa dikomunikasikan secara negatif kepada orang lain.
Artinya jika saya pernah merasakan “asin”nya garam dan “manis”nya gula
kemudian pengalaman ini saya ceritakan kepada orang lain, biasanya
justru yang mudah dipahami orang lain adalah bukan asinnya tapi justru
“garam”nya dan bukan manisnya tapi malah “gula”nya. Anda bisa
menceritakan tentang struktur kimia dan fisika dari garam dan gula tapi
Anda akan kesulitan menceritakan rasa “asin” dan rasa “manis”. Kecuali,
Jika Anda berbagi dengan mereka yang pernah mengalami “rasa” asin garam
dan manis gula. Anda akan mudah ”mentransfer” pengetahuan kepada orang
lain tentang ”garam yang asin” dan ”gula yang manis” tetapi Anda tidak
mungkin bisa ”memindahkan” pengalaman itu kepada orang lain. Jadi
yang bisa kita ceritakan adalah bukan ”eksistensi” pengalaman namun
hanya ”informasi” pengetahuan yang ada dalam pengalaman kita. Segala
sesuatu yang dialami secara ”eksistensial” tidak pernah dapat
diungkapkan secara totalitas. Anda hanya mampu menunjuknya. Anda bisa
menyampaikan kata ”tidak” namun kata ”ya” tidak dapat dikatakan, kata
”ya” harus dialami.
Pengetahuan merupakan ”ingatan masa lalu” tentang apa yang pernah Anda ketahui. Pikiran yang diliputi ”pengetahuan” cenderung tidak rendah diri. Anda dapat menjadi ”open mind” terbuka untuk yang belum diketahui hanya jika Anda merendah. Proses untuk mengetahui adalah ”abadi”, sehingga orang ”tidak dapat” sampai pada titik dimana ia dapat mengatakan ”saya telah sampai”. Bila seseorang mengatakan demikian, berarti ia telah jatuh dalam pola ingatan pengetahuan. Hidup selalu dari yang belum diketahui ke yang belum diketahui. Dari misteri yang satu ke misteri yang lainnya. Jadi untuk saya, seseorang yang religius adalah yang mengerti hakikat ” ekstase” ketidaktahuan dan menerima hakikat ”ketentraman” dari misteri hidup.
Apa yang saya ceritakan menjadi suatu bagian dari “ku” (ingatan) Anda. Namun perhatian saya bukan pada “ku” Anda. Karena bila “ku” Anda masuk, komunikasi tidak menjadi komuni. Ia hanya sekedar “monolog” bukan “dialog”. Tulisan ini saya racik untuk membawa “aku” (kesadaran) Anda bisa melampau “ku” Anda. Dan hanya dengan itu, pikiran Anda bisa “terbuka” dengan sesuatu yang belum diketahui.
Bila Anda membaca tulisan ini dan sesuatu ”tersadar” dalam hidup Anda, maka pengalaman akan terjadi pada Anda dan Anda akan merasakan sesuatu. Saya tidak berusaha meyakinkan Anda. Keyakinan intelektual sama sekali bukan keyakinan, ia hanya merupakan ”persepsi”. Jika Anda menerima ”sesuatu” yang benar dari apa yang ada pada tulisan ini, hakikatnya adalah Anda telah menemukan kebenaran itu dari pengalaman Anda sendiri. Inilah yang disebut dengan ”resonansi” Atau dalam fenomena lain, pengalaman bisa terjadi pada Anda saat membaca tulisan ini. Ini yang disebut dengan ”telepatik” pikiran. Anda bisa menangkap pesan-pesan yang tidak tertulis pada tulisan ini atau Anda bisa mendengar kata-kata yang tidak terucap. wasakhkhara lakum maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi jamii'an minhu inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin yatafakkaruuna.
Pengetahuan merupakan ”ingatan masa lalu” tentang apa yang pernah Anda ketahui. Pikiran yang diliputi ”pengetahuan” cenderung tidak rendah diri. Anda dapat menjadi ”open mind” terbuka untuk yang belum diketahui hanya jika Anda merendah. Proses untuk mengetahui adalah ”abadi”, sehingga orang ”tidak dapat” sampai pada titik dimana ia dapat mengatakan ”saya telah sampai”. Bila seseorang mengatakan demikian, berarti ia telah jatuh dalam pola ingatan pengetahuan. Hidup selalu dari yang belum diketahui ke yang belum diketahui. Dari misteri yang satu ke misteri yang lainnya. Jadi untuk saya, seseorang yang religius adalah yang mengerti hakikat ” ekstase” ketidaktahuan dan menerima hakikat ”ketentraman” dari misteri hidup.
Apa yang saya ceritakan menjadi suatu bagian dari “ku” (ingatan) Anda. Namun perhatian saya bukan pada “ku” Anda. Karena bila “ku” Anda masuk, komunikasi tidak menjadi komuni. Ia hanya sekedar “monolog” bukan “dialog”. Tulisan ini saya racik untuk membawa “aku” (kesadaran) Anda bisa melampau “ku” Anda. Dan hanya dengan itu, pikiran Anda bisa “terbuka” dengan sesuatu yang belum diketahui.
Bila Anda membaca tulisan ini dan sesuatu ”tersadar” dalam hidup Anda, maka pengalaman akan terjadi pada Anda dan Anda akan merasakan sesuatu. Saya tidak berusaha meyakinkan Anda. Keyakinan intelektual sama sekali bukan keyakinan, ia hanya merupakan ”persepsi”. Jika Anda menerima ”sesuatu” yang benar dari apa yang ada pada tulisan ini, hakikatnya adalah Anda telah menemukan kebenaran itu dari pengalaman Anda sendiri. Inilah yang disebut dengan ”resonansi” Atau dalam fenomena lain, pengalaman bisa terjadi pada Anda saat membaca tulisan ini. Ini yang disebut dengan ”telepatik” pikiran. Anda bisa menangkap pesan-pesan yang tidak tertulis pada tulisan ini atau Anda bisa mendengar kata-kata yang tidak terucap. wasakhkhara lakum maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi jamii'an minhu inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin yatafakkaruuna.
Pondok Holistik - 7
Body and Soul Harmony
Phone : 0274 - 925.3434 / 0821.3844.3434
Email : pondokholistik7@gmail.com
