Karakteristik
dari sunyi sepi adalah memang “hening” tanpa bunyi, sehingga suaranya
tidak banyak terdengar. Ia hanya didengar oleh manusia-manusia yang
kesehariannya juga “sunyi”. Tidak dalam posisi menyebut yang hidup dalam
“hening “ adalah sudah benar, dan yang lain adalah salah. Tetapi serupa
dengan mulut manusia, “gigi” wujudnya keras karena tugasnya memotong
dan menghancurkan. “Lidah” bentuknya lembut karena panggilan hidupnya
bukan untuk menghancurkan melainkan merasakan. Keduanya punya tugas yang
berbeda.
Saat
beratnya problem hidup tak mampu dipecahkan dengan logika, saat
pedihnya penderitaan tak kuasa di obati dengan kata-kata, dan saat
kekayaan tak mampu memutus rantai “adiksi” berkecukupan maka pena-pena
kesunyian akan bercerita tentang resep-resep keheningan dalam “pharmacy
of the soul” yang diracik untuk Anda yang saat ini sedang berduka atas
kehilangan orang tercinta, menderita karena kebrangkutan usaha, merana
ketika pasangan hidup tak juga berjumpa, cemas bila momongan yang belum
ada, marah karena kepercayaan ternoda, gelisah karena belum dapat kerja,
sedih karena teraniaya dan beragam wajah penderitaan yang lain.
Untuk
hidup dalam “kebahagiaan”, penjelasannya telah ada sejak ribuan tahun
yang lalu, demikian juga penjelasan tentang apa yang membuat hidup kita
“menderita”. Jadi saat ini yang dibutuhkan adalah bukan penjelasannya
melainkan bagaimana kejelasan untuk memperjelas “penglihatan” kita. Saat
kita pergi kelaut ada jutaan ombak disana. Namun kita tak pernah
melihat ”indahnya” laut, karena kita begitu terpesona melihat ombak. Tanpa
kita sadari, pikiran kita sering “dibingkai” oleh keindahan permukaan,
kecantikan topeng dan peran kepribadian. Ombak dan laut adalah realitas
”permukaan” dan ”kedalalaman” dari cara pandang tentang kehidupan.
Ketika orang melihat permukaan, yang tampak hanyalah kenyataan pada
”layar” kehidupan dan yang pasti juga akan terlihat ”sama” oleh orang
lain, tetapi menjadi berbeda ketika kita melihat pada kedalaman. Kedalaman
menghasilkan cara pandang yang detail dari ”frame-frame” dalam roll
film yang diputar. Kedalaman juga memberi jawaban dari kepingan-kepingan
puzzle hidup kita. Tetapi inilah yang terjadi. Kita terbiasa terpikat
oleh daya tarik ”topeng” kepribadian yang sebenarnya ”semu” dan
”sesaat”.
Saat Anda melihat lebih dalam, Anda akan menemukan “mata ketiga”. Kedua
mata Anda bertemu pada satu titik jauh dalam diri Anda. Mereka tidak
akan pernah bertemu di luar diri Anda, dan tak mungkin bisa. Semakin
jauh Anda melihat, semakin jauh jarak antara keinginan dan kenyataan.
Semakin dekat Anda melihat, semakin dekat jarak antara keinginan dan
kenyataan, antara kesulitan dan kemudahan, antara penyakit dan obat
kesembuhannya. Saat Anda memejamkan mata, kedua daya ”penglihatan” Anda
telah menyatu ke dalam, dan satu mata didalam diri Anda akan dapat
melihat ”kenyataan” yang sesungguhnya. Itulah yang disebut melihat tanpa
”indra” melihat. Inilah sebenarnya potensi ”mata batin” Anda. Potensi
alami untuk menyatukan apa yang ”tersurat” dan yang ”tersirat”, mengurai
”semiotika” simbol dan bahasa alam. Melihat keberadaan dan kenyataan
yang utuh dan tak terbagi. Melihat yang gelap dan terang, yang fisik dan
metafisik, masa lalu dan masa depan semua menyatu dalam totalitas
kehidupan. Hakikat melihat ”langit” adalah melihat ke dalam diri Anda,
menyatu dalam mata ketiga Anda. Disanalah ”ekstase” spiritual, disanalah
”kawruh” tentang hidup diturunkan. Semua potensi ini ada ditangan
kita, mau menggunakan atau tidak itu pilihan Anda, yang pasti di dalam
diri Anda ada benih mata ketiga. Saat Anda terpejam, ”sadari” mata
ketiga Anda maka energi mulai masuk dan jatuh pada mata ketiga Anda.
Sesaat kemudian, ”jendela” mata batin mulai terbuka.. Terbuka untuk
melihat kedalaman dan terbuka untuk melihat keheningan. Dalam hening
akan terlihat ”ketenangan” dan ”kejernihan” yang mengalir dari nafas
yang ”tertindas” menjadi nafas yang ”terbebas”, dari beratnya
penderitaan menjadi syukurnya kebahagiaan, dari keluh kesah menolak
kenyataan menjadi ”ikhlas” menerima takdir tetapan dan pilihannya.
Ketika
ditanya tentang “wajah” dari jiwa manusia saat ini, seorang sufi yang
hidup dalam kawruh “keheningan” terdiam , kemudian bernafas dalam dan
menjawab: “seseorang yang tidak bisa berenang saat terbawa arus sungai
yang dalam, biasanya ia akan “melawan”. Namun yang terjadi adalah
tubuhnya semakin “tenggelam”. Saat tubuh tidak bisa bernapas, maka
meninggallah ia. Namun setelah meninggal justru tubuhnya akan ”terapung”
di permukaan air. Mengapa? karena ia telah berhenti untuk “melawan”.
Saat
ini diantara kita masih banyak yang “tenggelam” dalam stres akibat
kenyataan yang tak diinginkan, depresi karena tuntutan dan bingkai orang
lain, penyakit yang tak kunjung sembuh, konflik beda persepsi dan harga
diri dan lain sebagainya, mengapa? karena kita masih terus melawan dan
menolak “kenyataan” yang se“harus”nya kita alami dan kita hanya menerima
kenyataan yang di“ingin”kan terjadi. Kita hanya terbiasa melakukan
sesuatu yang dinginkan, bukan yang seharusnya dilakukan. Saat kita
berpikir bahwa setiap keinginan yang menjadi nyata adalah kebahagiaan,
maka munculah “penderitaan” mengalami tegang dan cemas “dihantui”
obsesi dan harapan. Semakin jauh jarak antara keinginan dan kenyataan,
semakin besar juga penderitaan yang ada. Begitu pula, saat kita berpikir
bahwa setiap kenyataan yang diinginkan adalah kebahagian, maka lahirlah
“penderitaan” karena ketakutan untuk kehilangan apa yang telah didapat.
Semakin tinggi dan besar “aset” yang didapat, semakin “paranoid” dan
posesif untuk mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Kemudian apa yang
terjadi? Secara tidak sadar kita sudah “menegaskan” bahwa keinginan dan
kenyataan yang “asimetris” melahirkan penderitaan. Dan inilah yang
terjadi! Ada sebuah takdir penciptaan dalam “hukum penegasan”, bahwa
jika Anda menegaskan sesuatu secara mendalam maka sesuatu itu akan
menjadi nyata. Itulah mengapa banyak orang yang
kesulitan untuk ”keluar” dari penderitaan, karena mereka “menegaskan”
penderitaan. Jadi mulai saat ini, ”berhentilah” menegaskan yang negatif
dan ”mulailah” untuk menegaskan yang positif. Mulailah belajar untuk
”ikhlas” menerima sisi negatif kita, dan sesaat kemudian yang ada hanya
”kebahagiaan”. Kebahagiaan dengan sendirinya ”hadir” saat kita ”ikhlas”
menerima apapun kenyataan hidup yang terjadi. Inilah berkah spiritual.
”Setiap kesulitan pasti ada kemudahan”. Dengan keikhlasan, sesuatu yang
sulit menjadi mudah. Dengan keikhlasan, suatu penderitaan menjadi
kebahagiaan.
Jadi
Anda harus bersama dengan totalitas Anda sebagai manusia untuk ikhlas
menerima sisi positif dan negatif dari kehidupan Anda. Tidak ada jalan
untuk menghindarinya dan tak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Hanya
dengan itu ketegangan dalam ”senar-senar” jiwa bisa diperbaiki menjadi
harmoni yang indah.
Pondok Holistik - 7
Body and Soul Harmony
Phone : 0274 - 925.3434 / 0821.3844.3434
Email : pondokholistik7@gmail.com
