Terdesak
oleh keadaan dimana beratnya beban hidup dan konflik batin yang
mengelisahkan, seorang murid mendatangi sebuah pusat meditasi ”dzikir”
yang diasuh oleh seorang sufi terkenal. Lama sekali murid ini menunggu
agar bisa bertatap muka dengan sufi tersebut. Pagi, siang, sore dan
malam tetap saja terhalang oleh demikian banyak murid dan penggemar. Dan
disebuah pagi, murid ini beruntung bisa bertatap muka empat mata. Tanpa
menoleh kekiri dan kanan, ia pun langsung minta diajari hidup penuh
damai dan bahagia. Melihat muka murid yang demikian memelas, sufi
terdiam dan kemudian bertanya, ”Apakah sudah makan pagi?”. Murid itu
menjawab dengan penuh semangat, ”sudah, guru”. Sufi itu tersenyum dan
berkata,” Apakah makan pagi hari ini terasa nikmat?”. Murid itu terdiam.
Sesaat kemudian sufi itu berkata, ”Dan setelah selesai makan, jangan lupa mencuci tangan”. Murid
ini tertegun, tidak mengerti. Kenapa pertanyaan tentang kedamaian hidup
harus direspon dengan pertanyaan sudah makan pagi. Bahkan setelah itu
kenapa kebutuhan akan ketenangan jiwa direspon dengan ”retorika”
nimatnya makan pagi dan cuci tangan setelah makan. Lama murid ini
merenungi apa yang sebenarnya terjadi.
Sekian
tahun setelah semua berlalu, ribuan bacaan dzikir telah dibaca, puluhan
teknik meditasi telah dilalui, beragam jurus pernafasan telah dicoba,
maka disebuah waktu terbukalah sebuah pengertian sederhana namun
mendasar, ”a central aspect of training is that to be attentive in
whatever one does”, memberikan perhatian penuh akan apa yang dilakukan
saat ini, itulah salah satu aspek pusat latihan menjadi damai. Melalui
pendekatan ”present moment, wonderful moment”, semua aktifitas asal
dilakukan dengan penuh perhatian atau ”khusyu” bisa menjadi ”obat”
menuju ketenangan jiwa dan kedamaian yang ”khasiatnya” langsung bisa
dirasakan ”disini” dan ”saat ini”. Tidak perlu menunggu esok hari. Tidak
perlu menunggu sampai harta melimpah. Untuk merasakan kedamaian, Anda
tidak butuh apa-apa, kecuali hanya ”melompat” dari keinginan yang ada
”disana” menuju keberadaan yang ada ”disini”. Banyak orang yang
”berkecukupan” karena melimpahnya harta, kekuasaan dan popularitas,
tidak juga menemukan ”esensi” kedamaian, mengapa? Karena persepsi
kedamaian telah ”melekat” dalam keinginan masa depan, bukan kenyataan
saat ini. sehingga mereka akan terus mengejar kedamaian dalam
”bayang-bayang” masa depan, terlebih bagi mereka yang saat ini
”terjerat” dalam masalah kemiskinan, kebrangkutan usaha, putus cinta,
perceraian, kriminalitas dan lain sebagainya.
Sebuah
keputusan adalah baik jika munculnya dari kesadaran akan ”kenyataan”
saat ini, inilah yang disebut dengan ”keberadaan”. Namun jika kesadaran
kita ”melekat” atau dilekati” oleh keinginan pikiran, yang muncul
kemudian adalah ”konflik”, mengapa? Tubuh kita selalu disini dan sekarang. Namun keinginan pikiran tidak demikian. Pikiran
tidak pernah disini dan sekarang. Inilah konflik batin yang potensial
terjadi sepanjang sejarah manusia. Anda bernafas disini dan sekarang.
Tetapi pikiran Anda dapat berpikir tentang hari esok dan kemarin. Jadi
tubuh tetap tinggal disini dan saat ini, namun pikiran terus berharap
diantara masa lalu dan masa depan. Ada perpecahan
antara tubuh dan pikiran. Tubuh ada pada saat ini, namun pikiran tidak
pernah ada saat ini. Ketika makan, pikiran Anda teringat dengan
kesedihan masa lalu. Ketika berjalan, pikiran Anda takut akan masa
depan. Ketika bekerja, pikirannya sibuk dengan iri hati atas kebahagiaan
orang lain. Karena perpecahan inilah kemudian ”benih” kegelisahan dan
ketegangan tumbuh.
Jadi
mulai saat ini, pikiran harus dilatih untuk ”sadar” dalam kenyataan
masa kini. saat kita makan, pikiran sepenuhnya ”ada” pada kegiatan
makan, maka kedamaian akan datang dan makanpun terasa ”nikmat”. Jika
sedang bekerja, sepenuhnya pikiran ”ada” dalam bekerja maka kedamaian
akan datang dan bekerjapun terasa lebih ”bersemangat dan produktif”.
Jika sedang berdzikir, pikiran sepenuhnya ”ada” saat berdzikir maka
kedamaian akan datang dan berdzikir terasa ”bermakna”. Sederhana itukah?
Ya! Untuk merasakan kedamaian hati, Anda hanya perlu membawa pikiran untuk “sadar” pada kenyataan saat ini.
Bagaimana
membawa pikiran agar hidup dengan ”kenyataan” saat ini. Ketika Anda
terlalu banyak berpikir tentang masa depan dan masa lalu, istirahatlah
dan mulai perhatikan nafas Anda. Bila Anda dapat
menjadi ”sadar” akan proses ”pernafasan” Anda, maka Anda sadar pula
tentang proses ”pikiran” Anda. Mereka yang mencoba untuk langsung
menjadi sadar akan proses pikirannya, tidak akan berhasil. Upaya
demikian adalah sulit dan membosankan. Pernafasan adalah ”pintu” untuk
pikiran. Bila berhenti bernafas sesaat saja, pikiran Anda juga berhenti.
Jika pikiran Anda kacau, nafas Andapun juga kacau. Pernafasan menjadi
”refleksi” proses pikiran Anda. Jika Anda mampu merasakan gerakan halus
pernafasan, Anda akan pula mampu merasakan gerakan halus pikiran Anda.
Jadi mulailah untuk memperhatikan pernafasan, jangan mengubah ritme
nafas. Cukup merasakan nafas dan mengamati saja. Dengan mengamatinya,
maka ritme nafas akan menjadi lebih lambat dan lebih lambat. Dengan
resep yang sederhana ini, ritme pikiran akan selaras dengan ”bioritme”
tubuh. Dan untuk pertama kalinya, pikiran Anda mengalami dan mengerti
apa sebenarnya ”saat ini”. Jika tidak demikian, pikiran tidak akan
pernah mengalaminya, pikiran hanya tahu masa depan dan masa lalu. Ketika
pikiran sudah ”hidup” dalam kenyataan saat ini, bukan tidak mungkin
kalau waktu akan ”berhenti” bergerak ”kesamping” (masa lalu dan masa
depan) melainkan ”keatas”. Inilah yang disebut denga ”waktu abadi”.
Dimana hidup berubah menjadi amat damai disaat ini yang ”abadi”. Masa
lalu sudah berlalu. Masa depan belum datang. Keduanya sama-sama tidak
nyata. Dan saat ini yang demikian ”nyata” menjadi abadi karena berhenti
ditakut-takuti ”hantu” masa lalu dan masa depan. ”If Man is allowed to
be here now, he will be so peaceful”.Tatkala manusia mengijinkan dirinya
hidup disaat ini, yang tersisa hanya kedamaian yang dalam. Hidup
menjadi mirip dengan seorang anak yang baru pertama kali memasuki toko
mainan yang amat dia sukai. Semuanya menarik, semuanya berguna, semuanya
bermakna, sehingga nyaris tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya
dibeli, karena semuanya baik. Kemana pun mata menoleh yang tersisa hanya
baik dan indah. Inilah tanda-tanda kebersatuan dalam damai. Laa yughayyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa
bi-anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri)
Pondok Holistik - 7
Body and Soul Harmony
Phone : 0274 - 925.3434 / 0821.3844.3434
Email : pondokholistik7@gmail.com
